TAKALAR, AKSARA — Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar menemukan kandungan boraks pada salah satu sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedianya dibagikan kepada siswa UPT SDN 58 Lengkese, Sulawesi Selatan.
Temuan itu diperoleh setelah petugas memeriksa dua sampel makanan dari layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa. Dari pemeriksaan tersebut, satu sampel dinyatakan terdeteksi mengandung boraks.
Menu MBG itu belum sempat disantap oleh para siswa. Pihak sekolah memutuskan tidak membagikan makanan dan mengembalikannya setelah empat guru, termasuk kepala sekolah, mengalami gatal-gatal serta pembengkakan seusai mencicipi menu tersebut.
Keputusan itu diambil sebagai langkah pencegahan untuk menghindari kemungkinan munculnya keluhan serupa pada siswa.
Dinkes Lakukan Pemeriksaan Sampel
Baca Juga:/berita/mbg-di-batang-jadi-sorotan-276-siswa-dan-orang-tua-alami-gangguan-kesehatan
Dinas Kesehatan Takalar kemudian melakukan investigasi kesehatan lingkungan dan mengambil sampel makanan untuk diperiksa. Langkah tersebut dilakukan guna mengetahui keamanan menu serta menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para guru.
Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr. Nilal Fauziah, menjelaskan bahwa satu dari dua sampel yang diperiksa menunjukkan adanya kandungan boraks.
Meski demikian, hasil tersebut belum dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa boraks menjadi penyebab gatal dan pembengkakan yang dialami empat guru.
Keluhan tersebut mengarah pada reaksi alergi, tetapi bahan makanan yang memicu reaksi belum diketahui. Penelusuran lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan apakah keluhan berasal dari salah satu lauk, bahan tertentu, atau faktor lainnya.
Makanan Tidak Diberikan kepada Siswa
Baca Juga:/berita/kpu-pertahankan-pencalonan-gibran-dokumen-pendidikan-disebut-lolos-verifikasi
UPT SDN 58 Lengkese tercatat memiliki 86 siswa penerima manfaat Program MBG. Seluruh makanan yang dipersoalkan tidak jadi dibagikan setelah pihak sekolah menemukan adanya keluhan pada orang-orang yang terlebih dahulu mencicipinya.
Langkah cepat pihak sekolah membuat para siswa terhindar dari mengonsumsi menu yang sedang diperiksa. Tidak terdapat laporan bahwa 86 siswa penerima manfaat mengalami keluhan akibat makanan tersebut.
Pemeriksaan selanjutnya diperlukan untuk mengetahui jenis makanan yang terdeteksi mengandung boraks. Penelusuran juga dibutuhkan terhadap asal bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga pengiriman makanan dari dapur SPPG ke sekolah.
Temuan pada satu sampel tidak boleh serta-merta digunakan untuk menyatakan seluruh menu maupun semua makanan yang diproduksi dapur terkait mengandung bahan serupa. Kesimpulan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan cakupan sampel yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengawas keamanan pangan disorot
Baca juga:/berita/kpu-persoalkan-tenggat-gugatan-pendidikan-gibran-disebut-terlambat-905-hari
Kejadian ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Pengawasan tidak cukup hanya memastikan jumlah dan kandungan gizi, tetapi juga harus mencakup keamanan bahan yang digunakan dalam proses produksi.
Setiap temuan bahan yang tidak diperuntukkan bagi pangan perlu ditindaklanjuti secara terbuka. Pemeriksaan lanjutan penting untuk menentukan sumber masalah sekaligus memastikan apakah temuan tersebut terjadi pada tahap pengadaan bahan, pengolahan, atau distribusi.
Hasil penelusuran juga dibutuhkan untuk menentukan tindakan evaluasi terhadap penyedia makanan. Langkah itu penting agar kepercayaan siswa, orang tua, guru, dan masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG tetap terjaga.
Pemerintah daerah dan pengelola program diharapkan menyampaikan perkembangan pemeriksaan secara transparan, termasuk jenis makanan yang terdeteksi mengandung boraks serta tindakan yang diambil setelah temuan tersebut.