Kemajuan teknologi digital telah membawa dampak besar pada semua aspek kehidupan, termasuk pada identitas nasional. Teknologi dan media sosial merupakan pedang bermata dua, selain memperkenalkan hal-hal positif, hal tersebut juga dapat mengikis nilai-nilai tradisional. Generasi Z, yang tumbuh di era digital dan global sering terpapar oleh berbagai budaya dan nilai dari seluruh dunia. Kondisi ini bisa melemahkan rasa keterikatan mereka dengan identitas nasional jika tidak diimbangi dengan penanaman nasionalisme yang kuat. 
Saat ini, berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia dapat diakses hanya melalui satu sentuhan di layar HandPhone. Fenomena ini terlihat dari semakin berkurangnya minat terhadap budaya lokal, memudarnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik, hingga kecenderungan menjadikan budaya asing sebagai tolak ukur gaya hidup. Beberapa waktu yang lalu, dalam hitungan menit tiket konser artis internasional dapat terjual habis meskipun dijual dengan harga jutaan bahkan pulihan juta rupiah. Disisi lain, banyak pertunjukan seni tradicional, festival budaya daerah, hingga pameran produk lokal masih kesulitan menarik perhatian masyarakat khususnya Generasi Z. Benturan antara era digital dengan upaya mempertahankan identitas nasional menjadi tantangan bagi Generasi Z Indonesia.
Baca Juga :/artikel/opini/antara-tren-global-dan-identitas-mahasiswa-indonesia-nurfadilla-saputri
Krisis identitas nasional tidak hanya ditandai dengan lunturnya kecintaan terhadap budaya lokal, tetapi juga memudarnya karakter bangsa dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tradisional seperti gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap yang lebih tua mulai tergantikan oleh individualisme dan pragmatisme. Mereka banyak terpapar teknologi digital dan lebih familiar dengan perangkat mobile, media sosial, dan konten digital. Hal tersebut mengakibatkan banyak perdebatan yang menimbulkan kebencian dan penyebaran berita Hoax di media sosial. 
Dengan demikian, kuatnya globalisasi dapat menyebabkan kemungkinan lunturnya nilai-nilai pancasila yang ada di kehidupan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekedar masuknya budaya global, melainkan bagaimana masyarakat menyikapinya tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Baca Juga :/artikel/opini/pamer-barang-di-media-sosial-hilangnya-nilai-kesederhanaan-bangsa-nama-nur-amali
Generasi Z memiliki pemahaman dasar Pancasila meskipun implementasinya dalam kehidupan sehari hari masih tergolong terbatas. Banyak dari mereka yang hanya memikirkan kesenangan semata tanpa memikirkan risiko yang dapat merugikan dirinya sendiri atau bahkan merugikan orang lain. 
Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di era digital, Generasi Z memiliki potensi untuk mengatasi tantangan tersebut dengan cara mengamalkan dan menanamkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari hari agar Generasi Z tidak kehilangan jati diri dan identitas nasional. Pemanfaatan media sosial melalui konten yang menginspirasi dan mengedukasi serta lebih selektif dalam membagikan informasi ke sosial media. Generasi Z perlu menyadari bahwa tidak semua tren global perlu diikuti. Sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila harus mempunya sikap kritis dalam memilih informasi dan budaya yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal ini dapat menjadi identitas dan jiwa bangsa yang hidup dalam setiap individu karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan jati dirinya meskipun dunia terus berubah. 
Baca Juga :/artikel/opini/cara-membuat-video-dengan-ai-lebih-mudah-menggunakan-studio-ai-creative-fabrica
Menjaga identitas nasional bukan berarti menolak globalisasi. Sebaliknya, Generasi Z perlu mampu mengambil manfaat dari perkembangan teknologi sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip Pancasila sebagai landasan keyakinan dan perilaku mereka, seperti persatuan, toleransi, dan gotong royong. Akibatnya, dalam menghadapi munculnya budaya global, Generasi Z dapat berada di garis terdepan dalam mempertahankan identitas nasional.