Belakangan ini saya sering merenung tentang perubahan yang terjadi di sekitar saya sebagai mahasiswa. Membuka aplikasi media sosial setiap hari rasanya seperti masuk ke dunia lain yang penuh godaan. Video-video haul produk mahal, story flexing barang baru, dan konten influencer yang menampilkan gaya hidup glamor terus bermunculan. Di lingkungan kampus, pembicaraan sehari-hari lebih banyak tentang tren fashion terkini atau spot foto aesthetic daripada membahas budaya daerah atau perjuangan para pahlawan. Bahkan momen-momen nasional seperti upacara bendera pun kerap dimanfaatkan untuk konten yang lebih mementingkan penampilan daripada makna sebenarnya. Kebiasaan memamerkan harta di media sosial ini pelan-pelan mengikis nilai kesederhanaan yang seharusnya menjadi bagian penting dari karakter bangsa kita.
Bac Juga :/artikel/opini/cara-membuat-video-dengan-ai-lebih-mudah-menggunakan-studio-ai-creative-fabrica
Daya tarik media sosial memang luar biasa kuat. Algoritma yang pintar membuat kita sulit berhenti menggulir layar, sementara konten-konten impor tentang kemewahan terus didorong masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun bertanya dalam hati, mengapa nilai gotong royong, hemat, dan rendah hati yang dulu diajarkan orang tua semakin jarang terlihat di kalangan anak muda? Tentu saja pengaruh dari luar tidak selamanya buruk, tetapi ketika konsumsi berlebihan menjadi norma baru, identitas asli kita sebagai bangsa lambat laun bisa terkikis.
Globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi pendorong utama fenomena ini. Para influencer dan perusahaan besar dengan cerdik memanfaatkan platform digital untuk mempromosikan pola hidup yang serba instan dan materialistis. Budaya lokal sering dianggap biasa saja, bahkan kuno oleh sebagian generasi muda. Akibatnya, kebanggaan terhadap produk dalam negeri dan warisan leluhur menjadi pudar, digantikan oleh keinginan untuk selalu terlihat modern dan sukses di mata orang lain.
Baca Juga :/artikel/opini/peran-generasi-muda-dalam-mempertahankan-identitas-nasional-muh-syawal-angriawan
Berbagai studi pun mengonfirmasi kekhawatiran ini. Penelitian mengenai dampak westernisasi lewat media sosial menunjukkan bahwa paparan konten semacam itu dapat mengubah prioritas dan perilaku anak muda. Sementara itu, kajian lain tentang generasi Z di era digital menyimpulkan bahwa tren pamer barang berpotensi melemahkan semangat nasionalisme dan kepedulian sosial jika tidak diimbangi dengan edukasi yang kuat.Perspektif Pancasila memberikan gambaran yang jelas. Fenomena ini bertentangan dengan semangat Sila Ketiga yang menekankan Persatuan Indonesia serta Sila Kelima tentang Keadilan Sosial. Ketika individu lebih sibuk memamerkan kekayaan pribadi, nilai persatuan, disiplin, dan keadilan sosial menjadi terabaikan. Hal ini bisa membawa dampak serius bagi masa depan bangsa jika generasi muda kehilangan fondasi karakter yang kuat.
Baca Juga :/artikel/opini/bagaimana-gaya-hidup-influencer-mengubah-nilai-dan-jati-diri-kita
Meskipun begitu, saya yakin masih ada harapan besar. Kita dapat menikmati manfaat teknologi sambil tetap menjaga keseimbangan. Langkah nyata yang bisa dilakukan adalah lebih bijak memilih konten yang dikonsumsi, aktif mendukung UMKM lokal, serta mengaplikasikan nilai kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. Perguruan tinggi dapat membantu melalui kegiatan ekstrakurikuler yang menggabungkan kreativitas modern dengan kearifan lokal. Pemerintah dan pengelola media juga perlu berperan lebih aktif memprioritaskan konten yang mendidik dan membangun bangsa.
Menjadi anak muda di tahun 2025-2026 artinya harus pandai menyaring mana yang bermanfaat dan mana yang hanya sementara. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai lupa siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Semoga generasi kita mampu menjadi teladan yang tidak hanya tampil keren di media sosial, melainkan juga kuat dalam karakter dan cinta tanah air.


