Di tengah pesatnya arus globalisasi dan revolusi digital, batas geografis dan budaya semakin sulit dibedakan. Informasi, gaya hidup, hingga nilai-nilai dari berbagai belahan dunia dapat diakses secara instan melalui media sosial dan platform digital. Fenomena seperti meningkatnya penggunaan budaya populer asing, berkurangnya minat terhadap budaya lokal, hingga lunturnya pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan menjadi indikasi bahwa identitas nasional memerlukan perhatian yang lebih serius. Sebagai kelompok yang mendominasi populasi produktif dan menjadi pengguna teknologi digital terbesar, generasi muda memegang peranan penting dan strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Mereka bukan hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjadi agen pelestarian budaya nasional melalui inovasi, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi. Oleh karena itu, mempertahankan identitas nasional bukan berarti menolak globalisasi, melainkan membangun kemampuan untuk menyaring setiap pengaruh yang datang serta menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai landasan dalam beradaptasi dengan perubahan zaman.
Esai ini akan membahas pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan mempertahankan identitas nasional di tengah gempuran budaya global, sekaligus mengulas berbagai tantangan dan langkah konkret yang dapat dilakukan agar Indonesia tetap memiliki karakter yang kuat di era
global.
Identitas Nasional merupakan ciri khas suatu bangsa yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain. Identitas nasional sebagai landasan negara, juga alat mempersatukan bangsa. Generasi muda memiliki peran penting dalam memperkuat identitas nasional dimilki oleh generasi muda. Krisis identitas nasional yang mulai dirasakan saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh masuknya budaya global, melainkan karena rendahnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenali, memahami, dan mencintai identitas bangsanya sendiri. Banyak anak muda lebih mengenal budaya populer dari luar negeri dibandingkan sejarah perjuangan bangsa, bahasa daerah, kesenian tradisional, maupun nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan pada globalisasi, tetapi pada lemahnya fondasi karakter dan minimnya internalisasi nilai-nilai kebangsaan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya terlihat pada perubahan gaya hidup, tetapi juga pada karakter bangsa di masa depan. Lunturnya identitas nasional dapat mengurangi rasa cinta tanah air, melemahkan semangat persatuan, serta menurunkan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Generasi muda berisiko tumbuh menjadi individu yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bangsa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis nilai gotong royong, toleransi, dan solidaritas sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. Di sinilah nilai nilai Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai pedoman dalam menghadapi arus globalisasi. Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga menjadi kompas moral yang membimbing masyarakat agar mampu menerima kemajuan tanpa kehilangan jati diri.
Baca Juga :/artikel/opini/trendy-slang-asing-menggerus-bahasa-indonesia-di-media-sosial-nama-muh-ersyal-ba
Selain itu, hambatan mempertahankan identitas nasional yaitu penggunaan gadget mempengaruhi kurangnya semangat belajar, Individualis, kurangnya solidaritas, tidak peduli lingkungan dan hedonism. Faktor pendukung mempertahankan identitas nasional menyadari negara indonesia berdiri karena faktor historis, sosial, geografis, melestarikan budaya, sikap nasionalisme, dan upaya bela negara. Mempertahankan Identitas nasional di era globalisasi melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, menggunakan bahasa Indonesia, mencintai produk negeri, memanfaatkan arus digital untuk mempromosikan budaya Indonesia (Hamisa, W., Pratiwi, Y. S., Fijianto, D., & Alfaris, L., 2023).
Peran generasi muda dalam mempertahankan identitas nasional harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Mereka dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia, menciptakan konten edukatif mengenai sejarah dan budaya lokal, menggunakan produk dalam negeri, serta aktif mengikuti kegiatan sosial dan kebudayaan. Kemajuan teknologi dan derasnya arus budaya global seharusnya tidak menjadikan generasi muda kehilangan jati diri, melainkan menjadi sarana untuk menunjukkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Menjadi generasi yang modern bukan berarti meninggalkan nilai-nilai bangsa, tetapi mampu memadukan wawasan global dengan karakter yang berlandaskan Pancasila, disiplin, serta rasa cinta tanah air.


