Perkembangan teknologi dan internet membuat kehidupan masyarakat,  khususnya mahasiswa, semakin dekat dengan budaya global. Saat ini, hampir semua mahasiswa memiliki akses ke media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan platform digital lainnya. Melalui media tersebut, berbagai tren dari luar negeri dengan cepat masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara berpakaian, gaya berbicara, musik, film, hingga pola hidup, semuanya dapat dengan mudah ditiru hanya melalui satu layar telepon genggam. Fenomena ini memang menunjukkan bahwa dunia semakin terbuka dan tidak lagi memiliki batas dalam pertukaran informasi maupun budaya.
Sebagai mahasiswa, saya melihat perubahan tersebut terjadi di lingkungan sekitar. Banyak teman yang lebih antusias mengikuti tren yang sedang viral dari luar negeri dibandingkan mengenal budaya daerah atau budaya Indonesia sendiri. Tidak sedikit yang lebih hafal lagu-lagu dari luar negeri daripada lagu nasional atau lagu daerah. Selain itu, penggunaan istilah bahasa asing dalam percakapan sehari-hari juga semakin sering ditemui karena dianggap lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman. Di sisi lain, kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal justru kurang diminati oleh sebagian mahasiswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya global telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap cara berpikir dan gaya hidup generasi muda.
Baca Juga /artikel/opini/pamer-barang-di-media-sosial-hilangnya-nilai-kesederhanaan-bangsa-nama-nur-amali
Menurut saya, masuknya budaya global sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus ditolak. Globalisasi memberikan banyak manfaat, seperti memudahkan akses informasi, memperluas wawasan, serta mendorong kreativitas dan inovasi. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika budaya asing diterima tanpa disertai sikap kritis sehingga perlahan menggeser rasa bangga terhadap budaya sendiri. Jika keadaan ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin identitas nasional akan semakin memudar, terutama di kalangan mahasiswa yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mampu memanfaatkan perkembangan global secara bijaksana, yaitu dengan mengambil nilai-nilai positif dari budaya luar tanpa melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Dengan demikian, kemajuan zaman dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga nasionalisme, karakter, dan identitas bangsa.
Menurut saya, masuknya budaya global ke Indonesia merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari.Perkembangan teknologi dan internet membuat informasi dari berbagai negara dapat diakses dalam hitungan detik. Sebagai mahasiswa, saya juga merasakan manfaat dari globalisasi, seperti lebih mudah mendapatkan referensi belajar, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan mengenal budaya dari negara lain. Namun, di balik manfaat tersebut, saya melihat ada perubahan yang cukup terasa di lingkungan sekitar. Banyak mahasiswa yang lebih antusias mengikuti tren luar negeri dibandingkan mengenal budaya Indonesia. Misalnya, lebih mengikuti gaya berpakaian, musik, atau istilah yang sedang viral di media sosial daripada mempelajari budaya daerah yang dimiliki. Menurut kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, mengartikan global dengan ”concerning the whole earth”. Sesuatu hal yang berkaitan dengan dunia, internasional, atau seluruh alam jagat raya. Sesuatu hal yang dimaksud di sini dapat berupa masalah, kejadian, kegiatan atau bahkan sikap(Pravana et al., 2017)
Baca Juga :/artikel/opini/cara-membuat-video-dengan-ai-lebih-mudah-menggunakan-studio-ai-creative-fabrica
Fenomena tersebut dapat terjadi karena media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Hampir setiap hari kita menghabiskan waktu untuk membuka TikTok, Instagram, atau YouTube. Algoritma media sosial sering menampilkan konten yang sedang populer di seluruh dunia sehingga budaya asing lebih cepat dikenal dibandingkan budaya lokal. Akibatnya, tanpa disadari kita mulai menganggap bahwa budaya luar lebih menarik dan lebih modern. Padahal, Indonesia memiliki banyak budaya yang tidak kalah menarik jika dipelajari dan diperkenalkan dengan cara yang lebih kreatif. Generasi muda yang lebih mengagumi budaya asing cenderung memandang budaya lokal kuno sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, atau bahkan tidak relevan. 
Media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Twitter telah menjadi sarana utama dalam penyebaran budaya asing(Aisya Ifananda Putri, 2025). Selain media sosial, lingkungan pergaulan juga berpengaruh terhadap kebiasaan mahasiswa dalam mengikuti budaya global. Banyak mahasiswa yang merasa harus ikut tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman oleh teman-temannya.
Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang ramai dibicarakan. Karena itu, tidak sedikit mahasiswa yang langsung mengikuti tren dari luar negeri tanpa memikirkan apakah hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membuat sebagian generasi muda lebih akrab dengan gaya hidup asing dibandingkan budaya yang dimiliki bangsanya sendiri. Di era globalisasi saat ini, dunia semakin terhubung dan saling terkoneksi. Pertukaran informasi, budaya, dan ide antar negara berlangsung dengan sangat cepat dan mudah. Hal ini membawa dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kemajuan teknologi, ilmupengetahuan, dan ekonomi. Namun, globalisasi juga memiliki dampak negatif, salah satunya adalah terhadap identitas kewarganegaraan, khususnya bagi anak muda. Menuru yanda Anak muda saat ini dihadapkan pada berbagai pengaruh budaya dari luar, termasuk gaya hidup dan tren yang berasal dari negara negara Barat Hal ini dapat menimbulkan dilema bagi mereka dalam menjaga identitas nasional dan nilai-nilai budaya lokal(Firmansyah et al., 2024).
Menurut saya, mengikuti perkembangan zaman bukanlah hal yang salah. Justru sebagai generasi muda, kita harus memiliki wawasan yang luas dan mampu bersaing di tingkat global. Akan tetapi, keterbukaan terhadap budaya luar harus diimbangi dengan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Jika mahasiswa hanya sibuk mengikuti tren global tanpa mengenal budaya Indonesia, lama-kelamaan rasa nasionalisme dapat berkurang. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi masa depan bangsa karena mahasiswa merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia. Perubahan akan terjadi di segala aspek kehidupan baik dibidang politik, ekonomi, mau pun sosial budaya. Salah satu fenomena yang tidak dapat dihindari adalah globalisasi. Globalisasi merupakan proses penyebaran komponen – komponen baru dapat berupa kebudayaan, informasi, serta 
teknologi(Fitrianto Robby Fajar, 2019)
Baca Juga :/artikel/opini/peran-generasi-muda-dalam-mempertahankan-identitas-nasional-muh-syawal-angriawan