Buka Instagram atau TikTok cuma lima menit saja, sudah langsung diserbu konten influencer yang hidupnya terlihat begitu ideal. Liburan ke tempat wisata mewah, unboxing barang branded, atau cerita “self-reward” setelah kerja keras. Di kampus, obrolan teman-teman pun sering berputar di situ: siapa yang baru beli iPhone, yang lagi planning trip ke luar negeri, atau siapa yang paling sering flexing. Saya kadang diam-diam geleng-geleng kepala. Dulu orang tua bilang hidup itu soal cukup dan syukur. Sekarang? Banyak anak muda merasa gagal kalau belum bisa tampil seperti mereka. Fenomena ini bukan cuma soal gaya, tapi perlahan mengubah cara kita melihat diri sendiri dan bangsa ini.
Saya ingat dulu, waktu masih SMA, nilai keberhasilan diukur dari prestasi dan kepedulian. Kini, ukurannya bergeser ke seberapa estetik hidup di feed sosial media. Banyak teman yang rela menahan makan siang demi nabung beli tas atau sepatu branded supaya kelihatan “on brand”. Budaya “YOLO” dan “live your best life” yang dibawa influencer global ini memang menggiurkan. Tapi di balik itu, ada keresahan yang tumbuh pelan-pelan: kita jadi lebih konsumtif, kurang menghargai produk lokal, dan semakin jauh dari nilai kesederhanaan yang dulu jadi ciri orang Indonesia.
Penyebabnya menurut saya cukup kompleks. Globalisasi lewat media sosial memainkan peran besar. Algoritma platform tahu betul cara menjaga kita tetap scrolling dengan menampilkan konten yang memicu rasa iri dan keinginan memiliki. Brand internasional memanfaatkan influencer untuk menanamkan ide bahwa kebahagiaan bisa dibeli. Akibatnya, rasa nasionalisme kita ikut tergerus. Kebanggaan terhadap UMKM dan kreator lokal jadi kalah saing. Karakter bangsa yang selama ini dikenal hemat, gotong royong, dan ulet pun mulai tergantikan gaya hidup individualis yang instan. Ini jelas bertentangan dengan sila kelima Pancasila yang menekankan keadilan sosial. Bagaimana mungkin keadilan terwujud kalau kesenjangan gaya hidup di media sosial semakin lebar? Saya pernah membaca artikel di Kompas yang membahas bagaimana media sosial mendorong pola konsumsi berlebihan di kalangan generasi muda. 
Senada dengan itu, sebuah jurnal dari universitas negeri juga menyebutkan bahwa paparan budaya influencer mempercepat hilangnya nilai-nilai tradisional di Indonesia. Memang tidak semua influencer buruk. Ada yang menginspirasi lewat konten edukasi, bisnis  halal, atau promosi wisata dalam negeri. Tapi yang viral dan paling banyak ditiru biasanya yang memamerkan kemewahan. Saya pribadi sering merasa bingung. Di satu sisi ingin ikut tren agar tidak ketinggalan, di sisi lain takut kehilangan akar. Kalau dibiarkan terus, generasi kita bisa jadi lebih pandai pamer daripada berkontribusi nyata untuk bangsa.
Untungnya, masih ada ruang untuk perbaikan. Kita sebagai mahasiswa bisa mulai dengan lebih selektif memilih konten. Daripada langsung ikut haul, lebih baik luangkan waktu mendukung kreator lokal yang mengangkat cerita budaya atau produk Indonesia dengan cara kekinian. Kampus juga bisa berperan lebih aktif, misalnya lewat seminar literasi media dan pengelolaan keuangan. Pemerintah dan perusahaan platform sebaiknya memberikan batasan lebih ketat pada iklan yang mendorong konsumsi berlebihan.
Menjadi anak muda di tahun 2026 seharusnya tidak berarti harus meniru semua yang datang dari luar. Kita bisa tetap stylish, tetap update, tapi dengan pondasi yang kuat. Keren itu bukan soal barang mahal atau liburan eksotis semata. Lebih dari itu, keren adalah ketika kita bisa menghargai warisan leluhur sambil mengambil hal baik dari mana pun. Saya percaya, kalau kesadaran ini tumbuh di banyak anak muda, Indonesia ke depan akan punya generasi yang tangguh. Generasi yang tidak mudah terbawa arus, tapi justru mampu menciptakan arus baru yang lebih berarti. Mari kita mulai dari diri sendiri, hari ini juga.