AKSARA.MEDIA, JAKARTA – Ridho Rahmadi akhirnya buka suara mengenai keputusannya melepaskan jabatan Ketua Umum Partai Ummat. Pergantian kepemimpinan tersebut disebut sebagai bagian dari proses regenerasi yang wajar dalam sebuah organisasi politik.
Ridho menggambarkan pergantian tersebut sebagai estafet kepemimpinan. Menurutnya, ketika pemimpin yang berada di depan mulai mengalami keterbatasan, tongkat estafet perlu diserahkan kepada orang berikutnya agar organisasi tetap bergerak menuju tujuan bersama.
Setelah tidak lagi memimpin kepengurusan harian Partai Ummat, Ridho berencana kembali memberikan perhatian lebih besar pada kegiatan akademik. Ia akan berfokus mengembangkan Politeknik Artificial Intelligence BMD yang baru memasuki tahun kedua.
Dunia pendidikan dan teknologi disebut sebagai lingkungan yang selama ini dekat dengan latar belakang Ridho. Karena itu, keputusan kembali ke kampus dinilainya sebagai langkah untuk kembali menekuni bidang yang menjadi habitat awalnya.
Meskipun mundur dari jabatan ketua umum, Ridho memastikan dirinya tidak meninggalkan Partai Ummat. Ia masih tercatat sebagai anggota Majelis Syura dan akan tetap berkontribusi melalui struktur tersebut.
Baca Juga :/berita/aliansi-mahasiswa-iain-bone-kembali-turun-iain-bone-darurat-transparansi
Ridho menjelaskan bahwa posisi ketua umum di Partai Ummat berkaitan dengan Majelis Syura. Berdasarkan ketentuan internal partai, ketua umum merupakan anggota Majelis Syura yang mendapatkan penugasan untuk memimpin kepengurusan.
Dengan demikian, berakhirnya tugas sebagai ketua umum tidak otomatis memutus hubungan Ridho dengan partai. Ia tetap memiliki ruang untuk memberikan pandangan dan mengambil bagian dalam agenda strategis Partai Ummat.
Sebelum mengambil keputusan tersebut, Ridho mengaku telah berdiskusi dengan Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais. Hasil pembicaraan itu menunjukkan bahwa Amien dapat menerima dan mendukung pilihan Ridho untuk lebih berkonsentrasi pada pengembangan kampus kecerdasan buatan.
Dukungan itu juga disertai pesan politik kepada jajaran kepemimpinan Partai Ummat yang baru. Amien Rais meminta pengurus segera mempersiapkan organisasi untuk menghadapi kontestasi politik nasional berikutnya.
“Pak Amien mendukung, untuk pesan ke kepemimpinan baru agar mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi Pemilu 2029,” ungkap Ridho.
Baca Juga :/berita/hmi-bone-gelar-aksi-damai-kawal-kasus-yuli-nofita-sari-sampaikan-11-tuntutan
Pesan tersebut menandakan bahwa pergantian kepemimpinan tidak boleh mengganggu agenda konsolidasi partai. Struktur baru memiliki pekerjaan untuk memperkuat organisasi, menjaga komunikasi dengan kader, dan menyusun langkah politik menuju Pemilu 2029.
Pergantian tidak hanya terjadi pada posisi ketua umum. Sekretaris Jenderal Partai Ummat, Taufik Hidayat, juga mengundurkan diri dari jabatannya. Taufik menjelaskan bahwa dirinya bersama Ridho terpilih dalam satu paket kepemimpinan.
Pengunduran diri tersebut berlaku sejak 20 Agustus 2026. Setelah menerima keputusan Ridho dan Taufik, Majelis Syura Partai Ummat mengambil langkah untuk menjaga kelangsungan administrasi serta kegiatan organisasi.
Dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8, Partai Ummat menetapkan Sekretaris Majelis Syura, Ansufri ID Sambo, sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum. Sementara itu, Muhammad Sadiq dipercaya mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal.
Penunjukan pelaksana tugas menjadi bagian dari upaya menjaga roda organisasi tetap berjalan. Kepengurusan sementara diharapkan dapat mengawal agenda internal dan melakukan konsolidasi sampai partai menetapkan kepemimpinan definitif sesuai mekanisme organisasi.
Baca Juga :/berita/ekspansi-ke-luar-makassar-mugen-computer-buka-gerai-pertama-di-bone
Pergantian pucuk pimpinan menjadi momentum penting bagi Partai Ummat. Selain memastikan transisi berlangsung tertib, jajaran baru juga menghadapi tantangan untuk memperkuat struktur partai menjelang Pemilu 2029.
Konsolidasi diperlukan mengingat persaingan politik nasional diperkirakan akan semakin dinamis. Partai Ummat perlu memperkuat basis pendukung, meningkatkan komunikasi politik, serta mempersiapkan kader yang akan tampil dalam kontestasi mendatang.
Ridho menegaskan bahwa pengunduran dirinya tidak menghilangkan komitmennya terhadap Partai Ummat. Perubahan posisi tersebut merupakan pembagian fokus dan tanggung jawab, bukan bentuk perpisahan dengan partai.
Di satu sisi, Ridho akan berkonsentrasi pada pengembangan pendidikan dan teknologi kecerdasan buatan. Di sisi lain, ia tetap dapat memberikan kontribusi politik melalui keanggotaannya di Majelis Syura.
Dengan terbentuknya kepemimpinan sementara, Partai Ummat kini memasuki masa transisi. Pesan Amien Rais agar partai mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029 menjadi salah satu agenda utama yang harus diterjemahkan kepengurusan baru ke dalam langkah organisasi yang konkret.