Saya sering menemukan paradoks yang menggelitik dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa. Setiap kali saya membuka aplikasi TikTok atau Instagram, saya disuguhi banjir konten tentang tantangan menari K-Pop, filter wajah yang membuat setiap orang terlihat seperti standar kecantikan Korea, dan video influencer yang mendorong gaya hidup konsumtif yang dibungkus dengan cinta pada diri sendiri. Banyak teman kampus yang lebih mengenal idol Korea dari pada lagu nasional atau pahlawan bangsa. Terkadang, bahkan saat merayakan Hari Kemerdekaan, semangat yang muncul lebih didominasi oleh mode dunia luar daripada menunjukkan rasa hormat terhadap budaya mereka sendiri. Fenomena ini bukan hanya tren. Ia secara bertahap melemahkan rasa nasionalisme kita dan kesadaran kolektif kita sebagai bangsa Indonesia.
Media sosial memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memengaruhi budaya
di seluruh dunia. Dengan algoritma yang digunakan oleh platform seperti TikTok untuk terus menyajikan konten yang menarik, budaya asing, terutama K-Pop dan tren Barat, dapat dengan mudah masuk ke dalam kehidupan kita. Saya sering berpikir tentang alasan mengapa budaya lokal seperti tarian tradisional, musik daerah, dan prinsip gotong royong semakin terpinggirkan. Bukan berarti saya menolak semua pengaruh dari luar. Namun, dominasi yang tidak seimbang ini dapat mengikis identitas bangsa.
Salah satu faktor utama yang mempercepat proses ini adalah kemajuan teknologi dan globalisasi. Perusahaan hiburan Korea Selatan dan platform media sosial di seluruh dunia menggunakan pendekatan pemasaran yang sangat efektif. Mereka memberikan konten yang indah, mudah diikuti, dan menciptakan ikatan di internet. Budaya Indonesia, di sisi lain, seringkali dipandang tidak menarik atau ketinggalan zaman oleh sebagian anak muda. Akibatnya, daripada memperkaya warisan sendiri, orang lebih bangga mengadopsi gaya hidup, bahasa, dan prinsip-prinsip orang asing.
Fenomena ini memengaruhi sifat bangsa. Nasionalisme generasi muda tampaknya menurun, bukan berarti mereka anti-Indonesia, tetapi nilai-nilai lokal semakin diutamakan oleh budaya yang individualis dan konsumtif. Hal ini sejalan dengan masalah yang muncul dalam percakapan akademik. Artikel Kompas tentang dampak media sosial terhadap generasi muda Indonesia menyatakan bahwa paparan konten asing yang signifikan dapat mengubah cara orang berpikir dan berperilaku, terutama tentang identitas diri (Kompas, 2024). Demikian pula, sebuah jurnal tentang dinamika identitas nasional di era Hallyu dari Universitas Islam Negeri Malang menunjukkan bahwa meskipun banyak remaja mengklaim dapat menyeimbangkan budaya internasional dan lokal, ketidakseimbangan sering terjadi, yang mengakibatkan pengabaian akar budaya sendiri.
Dari sudut pandang Pancasila, peristiwa ini menantang Sila Ketiga yaitu Persatuan Indonesia dan Sila Kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan gaya hidup yang lebih menekankan kepuasan pribadi dan pencapaian pengakuan global, nilai-nilai persatuan, disiplin, dan gotong royong yang menjadi fondasi karakter bangsa kini semakin terdesak. Jika ini tidak ditangani, hal ini dapat memengaruhi masa depan Indonesia karena generasi berikutnya tidak akan memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dunia.
Meski demikian, saya percaya kita tidak perlu menutup diri dari arus globalisasi. Yang diperlukan adalah sikap selektif dan kritis. Sebagai mahasiswa, kita dapat mulai dengan langkah sederhana namun konsisten: meluangkan waktu untuk mendalami sejarah dan budaya Indonesia melalui konten berkualitas, mendukung kreator lokal yang inovatif, serta mengintegrasikan nilai-nilai tradisional ke dalam ekspresi modern. Institusi pendidikan juga berperan penting dengan menghadirkan mata kuliah yang tidak hanya teoretis, tetapi juga mendorong praktik pelestarian budaya secara kreatif. Pemerintah dan platform digital seyogianya lebih aktif mempromosikan konten lokal agar mampu bersaing secara sehat.
Pada akhirnya, menjadi anak muda Indonesia di era 2025–2026 berarti dapat menikmati keindahan budaya dunia tanpa kehilangan jati diri. Kita tidak hanya dapat mengagumi ketekunan idola K-Pop, tetapi juga dapat mengembangkan semangat solidaritas yang khas dari Indonesia. Kita dapat tetap bangga mengenakan batik atau tenun asli sambil mengikuti tren fashion global. Yang paling penting adalah memahami bahwa identitas kita adalah kekuatan yang membedakan kita di tengah persaingan global dan bukanlah beban.
Saya berharap generasi kita dapat menjadi agen perubahan yang bijak, tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga mampu menciptakan arus baru yang berakar kuat pada nilai-nilai Indonesia. Akibatnya, kita tidak hanya bertahan, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan untuk masa depan negara.