Sebagai mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, saya sering merasakan betapa beratnya tuntutan kuliah yang harus diimbangi dengan prestasi akademik dan latihan fisik. Banyak teman seangkatan yang mengeluh sulit tidur, mudah cemas, bahkan merasa burnout hanya karena membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Media sosial memperburuk situasi ini, karena setiap hari kita disuguhi cerita sukses teman yang lolos beasiswa, meraih IPK sempurna, atau sudah punya prestasi di kompetisi. Padahal di balik layar, banyak yang sedang berjuang sendirian dengan tekanan yang sama.
Baca Juga :/artikel/opini/generasi-z-dan-tantangan-menjaga-identitas-nasional-di-era-digital-nama-muh-riva
Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah pribadi. Tekanan akademik yang tinggi ditambah budaya “highlight reel” di Instagram dan TikTok membuat mahasiswa semakin rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi ringan. Banyak dari kita merasa tidak cukup hanya dengan belajar, harus terlihat sukses di mata orang lain. Akibatnya, motivasi belajar yang seharusnya datang dari dalam diri justru digantikan oleh rasa takut ketinggalan atau dianggap gagal.
Penyebab utama dari kondisi ini adalah kombinasi antara sistem pendidikan yang sangat kompetitif dan paparan media sosial yang tanpa henti. Algoritma platform cenderung menampilkan konten prestasi dan kesuksesan, sehingga menciptakan ilusi bahwa hampir semua orang sedang “menang” kecuali kita sendiri. Hal ini menyebabkan penurunan kesehatan mental yang signifikan di kalangan mahasiswa Indonesia.
Baca Juga :/artikel/opini/antara-tren-global-dan-identitas-mahasiswa-indonesia-nurfadilla-saputri
Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial lebih dari empat jam sehari memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang lebih selektif. Tekanan untuk selalu terlihat produktif dan sukses membuat banyak mahasiswa enggan mencari bantuan ketika sedang kesulitan, karena takut dianggap lemah atau tidak kompeten. Meskipun demikian, bukan berarti situasi ini tidak bisa diatasi. Sebagai calon pelatih olahraga, saya percaya bahwa keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental sangat penting.
Baca Juga :/artikel/opini/pamer-barang-di-media-sosial-hilangnya-nilai-kesederhanaan-bangsa-nama-nur-amali
Mahasiswa perlu belajar mengelola waktu dengan baik, membatasi paparan media sosial, dan tidak ragu mencari dukungan dari teman, dosen, atau konselor kampus. Kampus juga sebaiknya tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga menyediakan program kesehatan mental yang mudah diakses dan tidak stigmatisasi.Pada akhirnya, menjadi mahasiswa di era digital berarti harus pintar memilah mana yang bermanfaat dan mana yang justru merusak. Sukses yang sesungguhnya bukan hanya soal nilai tinggi atau jumlah prestasi, melainkan juga kemampuan menjaga kesehatan diri agar bisa berkontribusi secara berkelanjutan bagi bangsa. Generasi kita perlu membangun budaya kampus yang lebih peduli pada kesejahteraan holistik, bukan sekadar kompetisi semata.


