OPINI---- Belakangan ini, saya sering merasa gelisah setiap kali melihat kehidupan kampus dan pergaulan sehari-hari. Banyak teman yang tampil dengan gaya yang sangat terpengaruh Barat: dari cara berpakaian ala streetwear Amerika, obsesi dengan productivity hacks, sampai mindset “self-made” yang serba individual. Di feed Instagram dan TikTok, konten tentang side hustle, body transformationekstrem, dan gaya hidup mewah ala influencer Barat mendominasi. Yang bikin saya prihatin, hal-hal seperti gotong royong atau menghargai proses lambat ala budaya lokal seolah mulai kehilangan tempat. Fenomena westernisasi ini terasa begitu dekat dan nyata, seolah perlahan mengikis rasa keindonesiaan kita tanpa kita sadari.
Baca Juga :/artikel/opini/tekanan-akademik-dan-jeratan-media-sosial-mahasiswa
Dulu saat masih di rumah, saya biasa ikut acara keluarga besar, bantu-bantu tetangga, atau mendengar cerita orang tua tentang nilai kesederhanaan. Sekarang, di lingkungan kampus, obrolan lebih sering soal “bagaimana cepat kaya” atau “bagaimana kelihatan sukses di luar”. Banyak yang lebih bangga dengan gaya hidup ala Amerika Serikat daripada mengenal lebih dalam kekayaan budaya daerah sendiri. Saya resah karena ini bukan hanya soal penampilan atau hobi, tapi juga cara kita memandang keberhasilan dan hubungan antarmanusia yang semakin bergeser ke arah individualisme.
Menurut saya, ini terjadi karena globalisasi yang sangat cepat lewat media sosial dan kekuatan ekonomi kapitalisme global. Platform digital dengan algoritmanya pintar sekali menyajikan konten Barat yang terlihat lebih dinamis dan aspirasional. Sementara itu, nilai-nilai lokal seperti kesabaran, kerendahan hati, dan kebersamaan sering kali terasa “kurang kompetitif”. Dampaknya, rasa nasionalisme kita melemah. Sila ketiga Pancasila yang menekankan persatuan dan sila kelima tentang keadilan sosial semakin sulit terwujud di tengah pola pikir yang serba kompetitif dan materialistis.
Seperti yang dibahas dalam penelitian berjudul “Pengaruh Westernisasi
oleh Gen Z terhadap Keutuhan Identitas Nasional”, fenomena ini semakin masif karena kemudahan akses budaya Barat melalui media sosial, yang berpotensi merusak nilai-nilai nasional jika tidak disaring.
Baca Juga :/artikel/opini/generasi-z-dan-tantangan-menjaga-identitas-nasional-di-era-digital-nama-muh-riva
Senada dengan itu, penelitian Putri dan Cahaya (2025) menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia yang aktif di media sosial sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing, sehingga identitas nasional mereka cenderung tergerus.
Saya tidak anti terhadap semua hal dari Barat. Ada banyak hal baik yang bisa diambil, seperti semangat inovasi dan disiplin tinggi. Namun, kalau dibiarkan tanpa filter, kita bisa kehilangan esensi diri sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman dan nilai kolektif.Untuk mengatasinya, kita perlu pendekatan yang seimbang. Sebagai mahasiswa, kita bisa mulai dengan lebih mendalami sejarah dan budaya sendiri melalui diskusi atau kegiatan kampus. Perguruan tinggi sebaiknya menciptakan ruang yang lebih aktif untuk menggabungkan nilai lokal dengan pendekatan modern. Yang paling penting, kita harus lebih bijak dalam memilih apa yang kita konsumsi setiap hari di media sosial.
Baca Juga :/artikel/opini/antara-tren-global-dan-identitas-mahasiswa-indonesia-nurfadilla-saputri
Di era 2025-2026 ini, anak muda Indonesia seharusnya bisa tetap maju dan adaptif tanpa harus kehilangan akarnya. Kita bisa mengambil semangat kerja keras dari Barat sambil tetap menjunjung nilai kekeluargaan dan gotong royong yang khas Indonesia. Atau mengikuti tren global sambil terus merawat tradisi dan kearifan lokal di kehidupan sehari-hari. Yang utama adalah menjadikan identitas nasional sebagai pondasi, bukan sesuatu yang ditinggalkan.Saya percaya, segalanya memang dimulai dari kesadaran kecil di diri masing-masing. Mari kita jaga keseimbangan ini agar tidak hanyut dalam arus. Dengan begitu, kita bisa menjadi generasi yang tidak hanya mengikuti dunia, tapi juga memberi warna Indonesia yang kuat di panggung global.


