Tiap akhir pekan, saya sering melihat teman-teman lebih memilih  nongkrong di kafe atau traveling solo ketimbang pulang ke rumah. Alasannya selalu sama: “Capek kuliah, butuh me time.” Di TikTok dan Instagram, tren “independent living” dan “healing from toxic family” dari Barat sedang ramai dibahas. Padahal, di Indonesia, menghormati orang tua dan menjaga kebersamaan keluarga selama ini menjadi pondasi utama kehidupan kita. Saya jadi bertanya-tanya, apakah arus budaya global ini perlahan mengikis sifat kekeluargaan yang dulu sangat kental di masyarakat kita? Di kos atau kontrakan, obrolan teman-teman kerap soal kesibukan chase deadline atau mengikuti tren hustle culture. 
Banyak yang jarang menelepon orang tua, bahkan lebih sering menyerap nasihat motivator asing di YouTube daripada mendengar cerita dan petuah dari rumah. Gaya hidup individualis yang dibawa media sosial memang terasa membebaskan, tapi lambat laun membuat kita 
semakin menjauh dari tradisi gotong royong dan rasa hormat antargenerasi yang menjadi ciri khas bangsa ini. Penyebab utamanya adalah derasnya globalisasi lewat media sosial yang mempromosikan nilai individualisme dan self-actualization ala Barat. Ditambah lagi, kapitalisme ikut bermain karena konten semacam ini mendorong konsumsi
dan gaya hidup yang serba mandiri. Akibatnya, nilai-nilai Pancasila seperti persatuan dan keadilan sosial terasa semakin jauh dari kenyataan sehari-hari. Karakter bangsa yang dulu mengutamakan kekeluargaan dan kerjasama antar generasi kini mulai tergeser oleh semangat “sendiri saja cukup”.
Beberapa tulisan di media nasional dan pengamatan budayawan  menyebutkan bahwa paparan budaya luar melalui platform digital memang  memicu pergeseran nilai di kalangan anak muda, terutama dalam hubungan dengan keluarga. Hal ini menjadi tantangan serius dalam menjaga karakter bangsa di tengah kemajuan zaman.
Saya sadar bahwa di era sekarang, kemandirian dan ruang pribadi memang penting untuk tumbuh. Namun, jangan sampai kita kehilangan akar. Kita masih bisa mengambil sisi positif seperti semangat mandiri dan ambisi, sambil tetap menjaga nilai-nilai lokal yang selama ini membuat Indonesia berbeda. Solusinya bisa dimulai dari hal-hal kecil. Sebagai mahasiswa, kita bisa  lebih disiplin menyempatkan pulang, menelepon orang tua, atau ikut kegiatan keluarga. Kampus bisa membantu dengan menyelenggarakan diskusi atau workshop tentang keseimbangan hidup yang berbasis nilai Indonesia. Selain itu, kita juga perlu mendukung kreator lokal yang menunjukkan bahwa sukses tidak harus meninggalkan keluarga.
Sebagai anak muda di tahun 2026, saya percaya kita bisa tetap kekinian tanpa harus meninggalkan jati diri. Kesuksesan yang sesungguhnya bukan hanya soal pencapaian pribadi, tapi juga kemampuan menjaga hubungan dengan keluarga dan bangsa. Generasi kita diharapkan mampu menggabungkan yang terbaik dari dunia global dan nilai lokal, bukan memilih salah satunya.