BONE, AKSARA.MEDIA — Pernyataan legislator asal Sulawesi Selatan, Ismail Bachtiar, yang memberikan garansi tenggat waktu penyelesaian krisis pemadaman listrik di mana tanggal 6 dipastikan tidak ada lagi mati lampu—terus memantik reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Bone.
Sorotan tajam salah satunya datang dari Arfah, perwakilan pemuda asal Kecamatan Cina, Kabupaten Bone. Ia menilai bahwa klaim dan batas waktu yang dilempar ke ruang publik tersebut merupakan sebuah pertaruhan kredibilitas yang harus dibuktikan secara nyata, bukan sekadar angin segar untuk meredam keresahan warga.
Baca Juga: /berita/lkbhmi-pb-hmi-buka-posko-pengaduan-nasional-soroti-dugaan-praktik-mafia-di-18-se
Menurut Arfah, persoalan kelistrikan di Bone, khususnya yang dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat kecamatan hingga pedesaan, sudah berada pada titik yang sangat meresahkan. Pemadaman bergilir yang terjadi bukan lagi sekadar gangguan teknis biasa, melainkan masalah laten yang telah memukul mundur produktivitas ekonomi rakyat, melumpuhkan sektor UMKM lokal, hingga mengganggu kenyamanan anak-anak yang sedang belajar.
"Ketika seorang pejabat publik memberikan garansi bahwa tanggal tertentu lampu tidak akan padam lagi, maka itu bukan sekadar angka di kalender. Itu adalah kontrak sosial yang pertaruhannya adalah kepercayaan publik," tegas Arfah, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga:/berita/ridho-rahmadi-tinggalkan-kursi-ketum-partai-ummat-amien-rais-titip-target-pemilu
Arfah mengungkapkan, masyarakat di daerah sudah terlalu sering disuguhi janji-janji pemulihan sistem kelistrikan yang pada akhirnya sering berujung pada kekecewaan berulang di lapangan. Oleh karena itu, momentum tanggal yang dijanjikan ini akan menjadi ujian validitas, apakah klaim tersebut benar-benar solusi komprehensif atau sekadar retorika sesaat.
Sebagai pemuda yang merasakan langsung dampak buruk dari krisis energi ini, Arfah menegaskan bahwa pihaknya bersama elemen pemuda lainnya di Bone siap mengambil peran dalam pengawalan sosial. Mereka memastikan tidak akan tinggal diam apabila batas waktu yang dijanjikan terlewati begitu saja tanpa ada perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat.
Baca Juga :/berita/aliansi-mahasiswa-iain-bone-kembali-turun-iain-bone-darurat-transparansi
"Jika ternyata pemadaman masih terus terjadi setelah tanggal yang disuarakan, maka klaim-klaim tersebut patut dipertanyakan kredibilitasnya. Kelistrikan adalah kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi, bukan terus-menerus diberi toleransi atas alasan teknis yang klasik," pungkasnya.
Kini, seluruh mata masyarakat Bone, khususnya warga di pelosok kecamatan, menanti realisasi di atas lapangan untuk membuktikan apakah "tanggal 6" benar-benar menjadi babak akhir dari penderitaan akibat krisis listrik.