AKSARA, MAKASSAR– Kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mengalami penurunan akibat meningkatnya konsentrasi partikel polutan yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain kebakaran yang terjadi di wilayah setempat, asap dari Merauke, Papua Selatan, dilaporkan ikut terbawa angin timur menuju Pulau Sulawesi.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rizky Yuda, menjelaskan bahwa pemodelan pergerakan polutan menunjukkan asap dari wilayah Merauke bergerak ke arah barat mengikuti pola angin dari timur. Pergerakan tersebut memungkinkan asap mencapai sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Situasi ini menjadi perhatian karena sejumlah daerah di Sulawesi Selatan juga menghadapi kebakaran lahan. Kondisi cuaca yang relatif kering dan minim hujan dapat menyulitkan proses pemadaman serta meningkatkan potensi penyebaran asap.
Sejumlah Daerah Sulsel Terdampak
Baja Juga :/berita/kpu-dan-bawaslu-dilaporkan-ke-dkpp-soal-syarat-pendidikan-cawapres-ini-responsny
Berdasarkan informasi pemantauan kualitas udara yang diberitakan pada 13 Oktober 2026, sebanyak 12 wilayah di Sulawesi Selatan masuk kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Bantaeng, Barru, Bone, Bulukumba, Gowa, Makassar, Parepare, Maros, Sidrap, Sinjai, Soppeng, dan Wajo.
Kualitas udara yang memburuk berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi PM2.5, yakni partikel halus di udara yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan.
Selain asap yang terbawa dari luar daerah, kebakaran lahan lokal turut menjadi sumber polutan. Sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami karhutla antara lain Pangkep, Bantaeng, Enrekang, Toraja Utara, dan Luwu Utara.
Data sistem pelaporan kebencanaan Sulawesi Selatan juga mencatat kejadian karhutla di Kabupaten Toraja Utara pada 12 Oktober 2026. Kebakaran tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa penanganan sumber api di daerah perlu berjalan bersamaan dengan upaya mengurangi paparan asap kepada masyarakat.
Makassar dan Sidrap Perlu Waspada
Baca Juga:/berita/uu-pelindungan-ketenagakerjaan-resmi-disahkan-rosan-tekankan-manfaat-bagi-masyar
Penurunan kualitas udara juga menjadi perhatian di Makassar dan Kabupaten Sidrap. Pemantauan yang diberitakan pada 13 Oktober menunjukkan kualitas udara di kawasan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Sidrap, berada dalam kategori tidak sehat.
Peningkatan partikel halus PM2.5 menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, serta aktivitas kebakaran yang masih berlangsung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara tidak selalu sama sepanjang hari. Masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi resmi kualitas udara dan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal masing-masing.
Masyarakat Diimbau Mengurangi Paparan Asap
Baca Juga:/berita/mk-tak-temukan-bukti-ijazah-setara-sma-gibran-gugatan-tetap-tak-diterima
Paparan asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, menjaga kebersihan udara dalam ruangan, dan menutup jendela saat asap pekat masuk ke rumah dapat membantu mengurangi paparan partikel.
Warga juga perlu mewaspadai gejala seperti batuk, iritasi mata, sesak napas, atau rasa tidak nyaman ketika bernapas. Apabila mengalami gejala berat atau kondisi memburuk, segera mencari pertolongan medis.
Di sisi lain, upaya pencegahan kebakaran perlu diperkuat. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan maupun sampah secara sembarangan, khususnya saat cuaca kering dan angin berembus kencang.
Penanganan Api Menjadi Kunci
Baca Juga:/berita/mk-tak-terima-gugatan-syarat-pendidikan-gibran-ini-pertimbangannya
Asap dari Merauke yang bergerak menuju Sulawesi memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat melintasi batas wilayah administratif. Namun, tingkat paparan di setiap daerah tetap dipengaruhi oleh arah angin, kondisi atmosfer, dan sumber polutan lokal.
Karena itu, penanganan karhutla di Sulawesi Selatan perlu disertai pemantauan kualitas udara secara berkala dan penyampaian informasi yang mudah diakses masyarakat.
Selama masih terdapat sumber kebakaran dan kondisi cuaca mendukung penyebaran asap, potensi penurunan kualitas udara perlu tetap diwaspadai. Koordinasi antarlembaga menjadi penting agar pemadaman, pemantauan polutan, dan perlindungan kesehatan masyarakat dapat berjalan beriringan.