AKSARA.MEDIA, JAKARTA – Masyarakat perlu mewaspadai beredarnya tawaran bantuan modal usaha sebesar Rp100 juta yang mengatasnamakan Mahfud MD. Informasi tersebut bukan berasal dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu.
Tawaran tersebut beredar melalui sebuah video di Facebook. Pengunggah menggunakan foto Mahfud MD dan menambahkan suara yang terdengar seperti sedang menyampaikan pengumuman bantuan kepada masyarakat.
Pengguna media sosial yang melihat video dijanjikan dana untuk membangun atau mengembangkan usaha. Mereka kemudian diminta mencantumkan nomor WhatsApp pada kolom komentar maupun menghubungi akun penyebar melalui fitur pesan.
Baca Juga:/berita/serah-terima-jabatan-general-manager-asdp-cabang-bajoe-tongkat-kepemimpinan-resm
Setelah ditelusuri, tidak ditemukan pengumuman resmi mengenai program bantuan tersebut pada kanal komunikasi Mahfud MD maupun lembaga pemerintah terkait. Konten itu dikategorikan sebagai hoaks karena menggunakan materi lama dan suara yang diduga telah dimanipulasi.
Foto Lama Diberi Narasi Baru
Unggahan yang menyebarkan tawaran bantuan tersebut diketahui muncul di Facebook pada 16 Agustus 2026. Foto-foto Mahfud MD disusun menjadi sebuah video, kemudian dipasangkan dengan audio mengenai pemberian modal usaha.
Penelusuran terhadap materi visual menemukan foto serupa pernah dipublikasikan Mahfud MD melalui akun Instagram pribadinya pada 25 September 2024.
Foto aslinya memperlihatkan pertemuan Mahfud MD dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keterangan pada unggahan tersebut membahas perbincangan keduanya serta pentingnya pandangan, kritik, dan masukan Jusuf Kalla bagi Indonesia.
Baca Juga:/berita/wujud-solidaritas-hmi-cabang-bone-galang-dana-untuk-korban-bencana-flores
Tidak ada informasi mengenai bantuan uang tunai maupun program modal usaha dalam unggahan asli tersebut. Foto dari kegiatan lama itu kemudian digunakan kembali dengan konteks yang berbeda untuk membentuk kesan seolah-olah Mahfud MD sedang mengumumkan pembagian dana.
Audio Terindikasi Dibuat dengan AI
Selain menelusuri sumber foto, pemeriksaan juga dilakukan terhadap unsur video dan suara menggunakan alat pendeteksi konten berbasis kecerdasan buatan, Hive Moderation.
Hasil pemeriksaan memperlihatkan indikasi penggunaan AI sebesar 13 persen pada bagian video. Indikasi lebih tinggi ditemukan pada audionya, yakni mencapai 74,4 persen. Sementara unsur yang terdeteksi sebagai deepfake berada pada angka 1,4 persen.
Hasil tersebut memperkuat dugaan bahwa suara dalam video tidak berasal dari pernyataan asli Mahfud MD. Audio kemungkinan dibuat atau diubah menggunakan teknologi yang dapat meniru karakter suara seseorang.
Kemajuan teknologi AI membuat foto dan suara tokoh publik dapat disalahgunakan untuk menghasilkan konten yang tampak meyakinkan. Jika tidak diperiksa secara teliti, masyarakat dapat mengira tokoh dalam video benar-benar menyampaikan informasi tersebut.
Berpotensi Menjadi Pintu Penipuan
Baca Juga:/berita/ldks-2026-sma-negeri-21-bone-sukses-digelar-110-peserta-ikuti-pembinaan-kepemimp
Permintaan untuk menuliskan nomor WhatsApp menjadi salah satu bagian yang harus diwaspadai. Nomor tersebut dapat digunakan untuk menghubungi calon korban secara pribadi dan mengarahkan percakapan keluar dari platform media sosial.
Dalam berbagai modus bantuan palsu, pelaku biasanya meminta data pribadi, foto kartu identitas, nomor rekening, kode OTP, atau sejumlah uang dengan alasan biaya administrasi dan pencairan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung merespons tawaran dana yang disebarkan melalui akun tidak resmi. Informasi mengenai program bantuan harus diperiksa melalui situs pemerintah, akun media sosial terverifikasi, atau pemberitaan media yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga disarankan tidak menyebarkan ulang unggahan tersebut meskipun dengan tujuan bertanya atau memperingatkan orang lain. Penyebaran kembali tanpa penjelasan dapat memperluas jangkauan hoaks dan membuat lebih banyak orang percaya.
Kenali Ciri Bantuan Palsu
Baca Juga:/berita/13-pidana-masuk-ruu-perampasan-aset-korupsi-pajak-hingga-perdagangan-orang
Ada beberapa tanda yang dapat digunakan untuk mengenali tawaran bantuan mencurigakan. Salah satunya adalah janji uang dalam jumlah besar tanpa persyaratan yang jelas dan tanpa informasi mengenai lembaga penyelenggara.
Tanda lainnya ialah permintaan memberikan nomor WhatsApp di ruang publik, menghubungi akun pribadi, atau membayar biaya tertentu sebelum bantuan dicairkan.
Penggunaan bahasa berlebihan, desakan untuk segera mendaftar, dan permintaan menyebarkan unggahan juga patut dicurigai. Program pemerintah yang resmi umumnya memiliki dasar kebijakan, prosedur pendaftaran, jadwal, persyaratan penerima, dan saluran pengaduan yang dapat diperiksa masyarakat.


